warnaplus.press, Jakarta — Harga Bitcoin (BTC) mengalami koreksi tajam dan sempat menyentuh level US$60.000 pada perdagangan Jumat (6/2). Penurunan signifikan ini terjadi setelah gelombang likuidasi besar dan aksi jual dari investor institusional menekan pasar kripto secara luas.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menyatakan bahwa pergerakan tajam ini menunjukkan sensitivitas pasar kripto terhadap tekanan likuiditas. Menurutnya, ketika level support penting ditembus, efek stop-loss berantai dapat mempercepat penurunan harga.
Dari sisi teknikal, Bitcoin kehilangan area support di kisaran US$65.000–US$62.000, yang membuka ruang koreksi hingga US$60.000. Pelemahan ini turut menyeret aset kripto lain seperti Ethereum dan Solana yang juga mencatatkan penurunan signifikan.
Tekanan pasar juga terlihat dari meningkatnya aktivitas pada ETF Bitcoin spot, termasuk lonjakan volume perdagangan dan arus keluar dana dari investor besar. Kondisi ini menandakan fase risk-off di pasar global, di mana investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Meski demikian, Antony mengingatkan agar pelaku pasar tetap mengedepankan manajemen risiko. Ia menyarankan pendekatan bertahap seperti dollar cost averaging (DCA) serta penggunaan dana yang memang dialokasikan untuk investasi, sambil terus mencermati perkembangan ekonomi global yang memengaruhi pergerakan pasar.