warnaplus.press, Jakarta – Pasar properti sekunder Indonesia menunjukkan dinamika menarik di awal tahun. Laporan terbaru Rumah123 mencatat suplai rumah turun 9,2% secara tahunan, sementara harga tetap tumbuh 0,7% (YoY), mencerminkan strategi pemilik aset yang memilih menahan properti di tengah tekanan ekonomi.

Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, menyebut kondisi ini sebagai bentuk ketahanan alami pasar. Menurutnya, kontraksi suplai bukan tanda kelesuan, melainkan bukti kuatnya daya tahan pemilik properti dalam mempertahankan nilai investasi.
Secara regional, Yogyakarta dan Medan mencatat pertumbuhan harga masing-masing 5,2% dan 3,8% (YoY), melampaui inflasi dan menawarkan potensi imbal hasil riil positif bagi investor. Hal ini menunjukkan pergeseran minat ke kota-kota berkembang di luar Jakarta.
Sementara itu, Jakarta Pusat mencuri perhatian lewat lonjakan harga hunian compact (≤60 m²) yang melesat 36,4% (YoY). Tren ini mencerminkan pergeseran preferensi ke unit yang lebih efisien dan terjangkau secara nominal, terutama di tengah kebijakan suku bunga yang stabil.
Secara keseluruhan, laporan ini menegaskan bahwa pasar properti bergerak menuju keseimbangan baru berbasis kebutuhan riil. Transparansi data dan strategi investasi yang cermat menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ekonomi 2026.