HomeMovies"Yang Terluka": Kisah Para Perempuan Melawan Kejamnya Kasus Kekerasan Online

“Yang Terluka”: Kisah Para Perempuan Melawan Kejamnya Kasus Kekerasan Online

Apa yang akan terjadi pada seorang perempuan yang telah menjadi korban Cyberbullying? Apakah akan pasrah membiarkan hal itu terjadi? Atau sebaliknya melawan untuk mematahkan rantai tersebut?. Hal inilah yang akan menjadi tema utama dari Film bergenre drama thriller, “Yang Terluka” dengan Rico Michael sebagai sutradara sekaligus penulis skenario dalam film tersebut.

Cerita yang diangkat dalam film “Yang Terluka” mengambil kisah kehidupan sehari-hari mengenai perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual berbasis digital. Terlebih lagi, Rico menjelaskan bahwa ide cerita ini berasal dari temannya yang telah menjadi korban dengan kasus yang serupa.

“Ide film ‘Yang Terluka’ dari Harrum Chens, teman di Bali, seorang atlit yang mengalami cyberbullying cyber crime dimana suaminya menyebarkan dan menjual belikan video intim mereka, dan juga dari kasus-kasus lainnya, “ kata penulis skenario dan sutradara Rico Michael di lokasi syuting film ‘Yang Terluka’ di Pengadilan Negeri (PN) Bogor Kelas 1A, Jl. Pengadilan No.19, Pabaton, kecamatan Bogor Tengah, Bogor, Sabtu (22/11/2025).

Lebih lanjut, Rico menerangkan tentang adaptasi film tersebut. “Kita adaptasi kreatif juga berdasarkan dari cerita beliau dan juga cerita-cerita lainnya, tapi kita tidak mau terlalu menyudutkan pihak manapun karena kita ingin menampilkan dalam film ini berdasarkan kejahatan-kejahatan nyata di sekitar kita, “ terangnya.

Menurut Rico, kejahatan-kejahatan terhadap perempuan yang sebenarnya kadang-kadang buat para lelaki sebagai kelakuan yang sepele tapi kalau kita biarkan menjadi sesuatu yang lebih besar lagi

“Kenapa kita angkat cerita ini? Karena sudah waktunya kita bicara lebih serius untuk menjaga saudara-saudara kita yang perempuan, kita harus sama-sama saling menghormati, saling menjaga dan saling berkomunikasi, dan dunia tidak dikuasai oleh salah satu, tapi saling berbagi, saling membawa kekuatannya masing-masing, “ bebernya.

Rico menyampaikan, proses pembuatan skenario yang ditulisnya bekerjasama dengan Dennis dan Naomi, karena tidak boleh hanya dari kisah Harrum tapi digabungkan dengan kisah-kisah perempuan lainnya dengan riset juga. “Butuh waktu delapan bulan dan revisinya sampai enam kali. Bahkan sampai sekarang pun kita tidak menganggapnya skenario selesai kecuali nanti kalau syuting filmnya selesai, “ paparnya.

Sementara itu, Djenar Maesa Ayu menyampaikan bahwa dirinya berperan sebagai Madam. “Karakternya ambisius, melakukan segala cara, dia punya cara mencintai yang berbeda, berbeda karena memang sebetulnya dia pikir itu adalah cara mencintai orang lain, yang sesungguhnya dia terlalu mencintai dirinya sendiri, “ ujarnya.

Menurut Djenar, tantangan dalam memerankan Madam Rahayu. Sebenarnya bukan masalah ada tantangan atau tidak, karena setiap peran pasti akan selalu ada tantangan. Kita semua memerankan karakter yang berbeda.

“Tapi untuk Madam Rahayu sejak saya diberikan skripnya, saya merasa kayaknya karakter ini yang memanggil saya. Walaupun agak bulet-bulet, saya selalu tahu mana karakter yang pada akhirnya akan memilih mana yang tidak, mau dipaksain bagaimanapun, ini memang datang ke saya, “ tegasnya.

Bagi Djenar, itu yang memudahkan. “Menjadi mudah karena kami ketemu, kami reading, kami syuting main, nah ini serunya dalam produksi film ini, ini salah satu yang harus saya highlight, saya baru tahu ternyata seasyik itu produksinya, ternyata bukan karakternya tapi orang-orangnya aja yang gila, ternyata seleksi alam,” selorohnya.

Djenar menyimpulkan bahwa dirinya dengan semuanya punya energi yang cukup sama, walaupun berbeda, tapi sangat mact-lah, perbedaan umur yang berbeda jauh, ia merasa yang paling tua sepertinya. “Perempuan-perempuan hebat ini masih muda-muda, cantik-cantik, saya sempat berpikir bagaimana nantinya, tapi ternyata tidak ada masalah yang berarti karena itu energinya karena saya percaya sewaktu syutung saling memberi, terima kasih semuanya yang berkolaborasi, “ tandasnya.

Adapun, Sari Latif yang kebetulan profesinya adalah pengacara dan ia berperan sebagai hakim. “Saya juga turut membantu dalam penulisan skenarionya khususnya mengenai persidangan di pengadilan, “ ujarnya.

Menurut Sari, kasus Harrum masih berjalan jadi sebaiknya tidak terlalu banyak diekspos

“Kisah pembungkaman terhadap wanita, jarang sekali dibicarakan, dan saya percaya cerita berjalan dengan sendirinya, demikian juga dengan film ini, “ pungkasnya.

Film produksi Project 69 ini dibintangi Vinessa Inez, Fanny Ghassany, Dwi Sasono, Rifky Balwel, Djenar Maesa Ayu, Jinan Safa, Sari Koeswoyo, Dennis Adishwara, Dominiq Sandra, Gibran Marten, Chika Waode, Uus Wijaksana, Naomi, Hitanayri Christy, Rebecca Reijman, Kenzhie, Fizza Bella, Baby Kristami.*

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments