JAKARTA — Dalam perhelatan Jakarta Fashion Week (JFW) 2026, desainer Wilsen Willim akan mempersembahkan sebuah koleksi yang lahir dari perjumpaan intim dengan Tenun Putussibau, yang dijuluki sebagai ‘The Heart of Borneo’. Wastra ini tumbuh di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat—wilayah yang sejak 2018 ditetapkan UNESCO sebagai Cagar Biosfer—yang menyimpan keseimbangan antara kelestarian alam dan kekayaan budaya.
Bagi Wilsen, koleksi kali ini bukan sekadar presentasi fashion, melainkan sebuah respons terhadap kegelisahan budaya. Dalam beberapa dekade terakhir, keterbatasan akses pendidikan, infrastruktur, dan pasar mendorong sebagian perempuan Dayak Iban untuk mencari penghidupan di luar kampung, yang secara perlahan menggeser praktik menenun dari ruang hidup mereka. Tekanan inilah yang membuat sebagian perempuan Dayak Iban meninggalkan kampung, sehingga tenun, yang dahulu menyatu dengan denyut kehidupan sehari-hari, perlahan kehilangan ruangnya.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, Yayasan Kawan Lama menggagas program Aram Bekelala Tenun Iban (Mari Berkenalan dengan Tenun Iban) pada 2025 sebagai upaya untuk memperkenalkan, merawat, dan mempromosikan warisan budaya tenun masyarakatDayak Iban yang telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun. Dalam pelaksanaannya, Yayasan Kawan Lama berkolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia yang memiliki pengalaman dalam pengembangan wastra Nusantara. Kehadiran desainer Wilsen Willim sebagai mitra kreatif menandai awal perjalanan baru dalam mengolah Tenun Putussibau ke dalam bahasa mode kontemporer.
Tenun Putussibau yang menjadi fokus dibuat dengan teknik ikat dan teknik sidan menggunakan alat tradisional gedogan. Tenun Putussibau tidak hanya memuat struktur tekstil, tetapi juga simbolisme spiritual yang berakar pada animisme Dayak Iban.“Jiwa-jiwa penenun seolah ada di wastra yang mereka buat”, ujar Willsen.
Di panggung Jakarta Fashion Week, Wilsen Willim mengeksplorasi Tenun Putussibau dengan motif yang dirancang oleh desainer tekstil mitra Cita Tenun Indonesia, Koesoemaningsih. Untuk memperkaya wastra yang bernilai spiritual tinggi ini, Wilsen Willim memasukkan elemen-elemen modern yang kontras namun harmonis. Koleksi ini memadukan payet bernuansa tribal yang kental dengan permainan teknik cording— teknik tailoring marching band—untuk nuansa military regal. Kombinasi tersebut menghasilkan 12 looks baru yang segar dan unik. Koleksi ini berfokus pada rok, celana, dan jacket, memberikan look baru dalam formal wear yang akan dibungkus menjadi lebih dramatis saat ditampilkan dirunway.
Menghadapi tantangan di JFW, Willsen Willim melihat perlunya menghadirkan busana bernuansa kontemporer agar relevan dengan selera penonton yang modern. Ia memilih menafsir ulang wastra agar tampak segar tanpa kehilangan identitasnya.“Saya tidak mengikuti tren, saya menciptakan tren,” ujarnya. Melalui koleksi ini, Willsen menegaskan komitmennya untuk mengolah wastra Indonesia dengan pendekatan baru yang tetap berakar pada keotentikan lokal.