Jakarta — Tahun ini di Jakarta Fashion Week, TANGAN Privé menandai babak penting dalam perjalanan sepuluh tahunnya dengan bergabung menjadi bagian dari Dewi Fashion Knights. Dalam kesempatan ini, TANGAN Privé mempersembahkan koleksi 18 tampilan yang menelusuri identitas berlapis Nusantara: masa lalunya, masa kini, dan masa depan yang dibayangkan.
Koleksi ini tidak sekadar refleksi tradisi, melainkan sebuah penyusunan ulang yang mendalam; sebuah penggalian ingatan, bentuk, dan identitas dalam kondisi paling cairnya. Sentimen ini diwujudkan dalam pakaian yang bergerak dari yang personal hingga performatif, dari yang terstruktur hingga teatrikal, dari yang terlihat hingga yang tersembunyi. Untuk pertama kalinya, TANGAN Privé menampilkan busana pria di panggung runway, dengan tiga tampilan yang mengusung aura tenang dan otoritas, dipengaruhi oleh kosa budaya multifaset. Sementara itu, busana wanita memperluas alam rumah mode ini ke busana malam yang mengedepankan struktur dan volume yang tinggi, serta kerumitan detail yang menunjukkan keahlian khusus yang berkelanjutan.
Inti dari koleksi ini adalah satu hal yang tetap: keahlian tangan. Kali ini, kerja korset dan bustier menjadi tulang punggung teknis koleksi. Terstruktur namun sensual, mereka muncul di bawah mantel, jaket yang dipahat, dan reinterpretasi kebaya berlapis. Sebuah mantel memperlihatkan lipatan tersembunyi yang hanya terlihat saat bergerak. Mantel lain, dari satin merah dengan lengan arsitektural, menyembunyikan lapisan Tenun; sebuah isyarat keintiman dan kemewahan yang tenang, jenis kemewahan yang dimaksudkan untuk dirasakan sebelum dilihat.
Pengaruh budaya dan estetika bertemu secara cair. Siluet Jawa bertemu ornamen Cina, sementara nuansa Barat berpadu dengan pakaian adat Indonesia. Beberapa tampilan wanita terinspirasi dari pakaian yang secara historis dikenakan oleh pria di seluruh nusantara, mengubah bentuknya menjadi feminitas baru. Busana pria mengadopsi kode upacara dan ornamen halus melalui bordir tangan, gaya syal Tenun, dan kerah mandarin, disempurnakan melalui proporsi dan pengendalian.
Gaun pengantin yang dibuat dari lapisan transparan yang menampilkan konstruksinya mengartikulasikan arsitektur pembuatannya, sekali lagi sebagai penghormatan terhadap dedikasi dan keahlian. Di sampingnya, gaun bertabur rhinestone menangkap cahaya dalam gelombang hiasan, menggema kemegahan tradisi dekoratif Cina. Tampilan lain memadukan beludru lembut dengan payet dan bordir halus, membangkitkan kemewahan akhir abad ke-20 sekaligus menelusuri kontur identitas budaya berlapis Indonesia. Bersama-sama, potongan hibrida ini mencerminkan percakapan berkelanjutan antara tradisi dan modernitas, pengendalian dan ekspresi.
Kolaborasi memperluas narasi. Perhiasan perak halus Mahija tidak hanya menjadi hiasan, tetapi juga kelanjutan yang terintegrasi ke dalam pakaian sebagai perpanjangan desain. Dalam satu tampilan, kebaya renda yang dipadukan dengan korset putih ditambatkan oleh hiasan pinggang skulptural dan liontin surealis, mengubah aksesori menjadi struktur. Alas kaki oleh Rajnik melanjutkan etos kerajinan, dengan motif khas merek yang selaras sempurna dengan bahasa desain TANGAN Privé.
Koleksi ini juga menghidupkan kembali Batik Kudus dalam kolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation serta memperkenalkan bordir Tapis Lampung khas yang dikembangkan bersama pengerajin dari daerah tersebut. Keduanya disajikan dengan penghormatan pada asal-usulnya sekaligus diintegrasikan ke dalam narasi lebih luas koleksi. Teknik tradisional ini tidak diposisikan sebagai nostalgia, melainkan sebagai kesinambungan hidup, ditenun ke dalam draperi, ekor, dan lipatan yang bergerak dengan resonansi.
Memasuki tahun kesepuluhnya, koleksi ini mewakili puncak dan transisi: kristalisasi dialog berkelanjutan antara warisan dan interpretasi, dan ketegangan abadi antara tradisi dan transformasi, di mana kerajinan tidak hanya dipertahankan tapi diteruskan dengan hidup.
Presentasi ini didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, BRI Private, dan Lomma Experience, yang bersama-sama berkomitmen pada kreativitas dan keahlian kerajinan Indonesia yang terus membentuk dialog budaya bangsa.


