warnaplus.press, Jakarta — Industri perfilman Indonesia mencatat pencapaian signifikan sepanjang 2025 dengan semakin kuatnya kehadiran karya anak bangsa di panggung internasional. Partisipasi film Indonesia di berbagai festival dunia menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dalam tiga tahun terakhir.

Film-film Indonesia menjangkau 91 festival di 36 negara, mencakup kawasan Asia, Australia, Eropa, hingga Amerika. Dari partisipasi tersebut, sineas Indonesia berhasil membawa pulang 48 penghargaan internasional untuk film yang telah diproduksi, serta empat penghargaan bagi proyek dalam tahap pengembangan.
Adrian Jonathan dari Cinema Poetica menilai capaian ini sebagai indikator bahwa sinema Indonesia semakin diperhitungkan di tingkat global. Ia mengapresiasi dukungan berbagai pihak dalam memperluas jejaring internasional dan membuka akses sineas ke forum-forum strategis dunia.
Salah satu sorotan utama datang dari film Pangku (2025), debut penyutradaraan Reza Rahadian untuk film panjang. Karya ini meraih empat penghargaan di Busan International Film Festival 2025, termasuk FIPRESCI Award, serta mencatat lebih dari 560 ribu penonton di dalam negeri dan menyabet Film Cerita Panjang Terbaik FFI 2025.
Di ranah komersial internasional, film Jumbo (2025) berhasil menembus pasar Meksiko dan memperoleh hak edar di lebih dari 40 negara. Sementara Agak Laen: Menyala Pantiku! (2025) juga tayang di Malaysia tak lama setelah rilis domestik. Kedua film tersebut mencatat lebih dari 10 juta penonton dan masuk jajaran film terlaris di Asia Tenggara.
Film pendek dan dokumenter Indonesia pun menunjukkan performa impresif. Sejumlah judul seperti Little Rebels Cinema Club, Daly City, dan Sammi, Who Can Detach His Body Parts meraih berbagai penghargaan serta kualifikasi untuk pendaftaran Academy Awards 2026.
Dari sisi warisan sinema, film klasik Turang (1957) diputar kembali di International Film Festival Rotterdam 2025. La Cinémathèque française juga menggelar retrospeksi film Indonesia untuk memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Perancis.
Kerja sama lintas negara semakin menguat melalui skema ko-produksi. Film Renoir yang melibatkan Indonesia bersama Jepang, Prancis, Singapura, dan Filipina masuk seleksi kompetisi Cannes dan meraih sejumlah penghargaan internasional.
Beragam capaian ini menegaskan bahwa film Indonesia tidak hanya hadir di festival bergengsi, tetapi juga aktif di pasar global, ruang alternatif, hingga forum akademik. Dengan dukungan berkelanjutan, sinema Indonesia berpotensi semakin kokoh sebagai bagian penting dari ekosistem perfilman dunia.