Warnaplus.press – Di tengah maraknya perdebatan publik mengenai status pekerja GIG dan regulasi ketenagakerjaan, Maxim Indonesia merilis hasil riset internal eksklusif yang melibatkan 30.000 mitra pengemudi aktif. Berdasarkan hasil survey, ditemukan bahwa lebih dari 65% mitra tidak bersedia kehilangan akses terhadap peluang penghasilan harian mereka.

Lebih lanjut, separuh dari total responden mengatakan bahwa mereka memperoleh lebih dari 50% pendapatan dari Maxim, sementara 26% menghasilkan hingga 80% pendapatan melalui platform ini. Temuan ini menunjukkan bahwa pengemudi perlu menggabungkan berbagai aktivitas untuk memenuhi kebutuhan. Hanya 22% pengemudi yang melaporkan bahwa 100% pendapatan mereka berasal dari Maxim dan menjadikan platform ini sebagai sumber penghidupan utama.
“Kalau sampai disuruh full (pekerja) saya gak setuju, masalahnya kita kan juga harus antar anak sekolah, jemput, belum lagi kalau ada kerjaan-kerjaan (serabutan) lain. Kan kebutuhannya banyak, kalo begini caranya bisa dilepas (pekerjaan). Tapi kalau dilepas pusing juga karna penghasilan gak cukup,” ungkap salah seorang mitra pengemudi Maxim.
Terkait jaminan sosial, 62% responden merasa sudah cukup terlindungi melalui skema yang tersedia seperti BPJS Ketenagakerjaan dan YPSSI. Sementara itu, 57% belum siap untuk menyisihkan pendapatan mereka demi mengikuti program asuransi tambahan. Data ini mengindikasikan rendahnya tingkat pemahaman serta keterbatasan kemampuan finansial para pengemudi
“Maxim telah memperkuat kolaborasi dengan BPJS Ketenagakerjaan melalui penandatanganan nota kesepahaman. Dengan kerja sama strategis ini, perusahaan bertekad memberikan kemudahan bagi mitra pengemudi ke akses jaminan sosial BPJS,” ungkap Dirhamsyah selaku Development Director Maxim Indonesia.
Riset juga menemukan bahwa 76% responden tidak bersedia menjalani pemeriksaan tambahan, baik untuk kendaraan maupun kesehatan, serta prosedur birokrasi lainnya setiap hari hanya demi memenuhi persyaratan dalam klasifikasi ketenagakerjaan baru.
“Dari hasil survey yang kami lakukan, data dengan jelas menunjukkan kalau pengemudi belum benar-benar paham konsekuensi dari perubahan ini (status mitra ke pekerja). Mereka belum mengerti bahwa perubahan ini bukannya membuat sejahtera, malah berpotensi menutup peluang mereka untuk mencari nafkah,” tutur Dirham
Selain itu, Dirham menambahkan, “Pengemudi memiliki kecenderungan yang sangat kuat terhadap sistem kerja fleksibel dibandingkan dengan hubungan kerja yang kaku.”
Maxim Indonesia juga menekankan bahwa perubahan status ketenagakerjaan dapat “mematikan” industri, karena lebih dari 65% pengemudi berpotensi kehilangan pekerjaannya. Temuan ini juga menegaskan pentingnya kampanye edukasi publik guna meningkatkan pemahaman mitra pengemudi mengenai opsi jaminan sosial dan perencanaan keuangan pribadi.
“Jutaan mitra pengemudi bergantung pada fleksibilitas harian. Jika kebijakan tidak mendukung realitas tersebut, justru akan berisiko mengganggu sumber penghidupan mereka dan mempersempit akses mereka untuk mencari nafkah.”
Sebagai informasi, survey yang dilaksanakan Maxim bersifat anonim dengan menjamin kerahasiaan responden sesuai dengan regulasi yang berlaku. (Icho)