Pada koleksi yang berjudul Resonance, untuk tahun 2026, Rinda Salmun kembali berbicara tentang lingkungan melalui identitas brandnya yang berkomitmen dalam mengutamakan kepentingan ekosistem keberlanjutan (sustainable fashion). Dalam koleksi ini, Rinda Salmun mengolah limbah tekstil yang dikumpulkan dari studio pribadinya dan beberapa rekan desainer lainnya yang kemudian diolah ulang, direkonstruksi, maupun ditenun menggunakan teknik ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin), dengan tujuan untuk meminimalisir sampah tekstil produksi dan melahirkan kembali potongan-potongan tekstil tersebut menjadi bentangan bahan yang baru. Resonance, diibaratkan sebagai keindahan yang terlahir dari sebuah kegaduhan, menghadirkan rangkaian busana yang tidak sekadar berbicara tentang ekosistem alam, tetapi juga menyinggung ekosistem sosial yang rapuh.
Koleksi Resonance 2026 ini berbicara mengenai kesenjangan sosial kontras yang semakin nyata dalam kehidupan kontemporer. Di saat kebersamaan dan kesetaraan justru dibutuhkan, jarak sosial kian melebar, diperkuat oleh hierarki urban dan ekspektasi yang menekan. Ketidakpedulian menumpuk, seperti gunung limbah pakaian yang menjadi simbol pemborosan zaman.
Di balik pakaian, manusia menyembunyikan amarah, kecemburuan, dan keinginan — menciptakan ilusi demi validasi. Konsep koleksi ini menggarisbawahi betapa garis pemisah selalu hadir: mereka yang berkelimpahan melawan mereka yang lapar, kecantikan terkurasi melawan penderitaan tersembunyi, kemewahan melawan kesederhanaan. Sebuah kritik tajam terhadap masyarakat modern—“We blame society, yet we are society.”
Dari situ, koleksi ini mengambil inspirasi dari kontras antar era, Belle Epoque dan Teddy Boys & Girls. Era Edwardian atau Belle Epoque yang berlangsung disekitar tahun 1871 diketahui sebagai era yang dipenuhi keanggungan dan kemewahan. Era “kesempurnaan” yang dicerminkan melalui warna-warna gembira yang menghilangkan rasa lara. Namun, kontras yang amat mencolok muncul pada generasi berikutnya, Teddy Boys/Girls. Subkultur pada tahun 1950an yang lantang dan penuh perlawanan, menantang narasi dominan dengan gaya berisik dan citra yang penuh sikap. Dari dialog inilah, koleksi Resonance 2026 mengekspresikan sebuah koleksi yang menggabungkan keanggunan aristokratik dengan semangat pemberontakan jalanan, menyuarakan kembali ketimpangan sosial melalui bahasa mode yang kontemporer.
Dalam proses kreatif ini, terkumpul limbah tekstil sebanyak 40 kilogram yang kemudian diolah menjadi bahan tenun baru dengan teknik tradisional alat tenun bukan mesin (ATBM). Proses ini terwujud melalui kolaborasi bersama Roa Atelier, sebuah perusahaan eksplorasi tekstil yang menjunjung tinggi inovasi keterampilan tangan dan keanggunan tanpa batas waktu— sebuah visi dan misi yang sejalan dengan identitas karya Rinda Salmun. Selain itu, bahan yang sudah lama tersimpan sejak tahun 2015 kembali diberi kehidupan baru melalui teknik tampal-sulam (patchwork), disusun ulang menjadi bentangan kain segar yang siap diolah menjadi busana. Koleksi ini juga menghidupkan potongan-potongan perca brokat, sisa produksi busana pesanan pribadi, serta bahan yang dikumpulkan dari beberapa rekan desainer. Dalam rangka memperkuat semangat keberlanjutan, Rinda Salmun turut bekerja sama dengan Pable, sebuah perusahaan yang berfokus pada pengolahan limbah tekstil. Melalui kerjasama ini, sebanyak 160 potong pakaian berhasil diselamatkan dari pembuangan ke tempat sampah akhir (landfill), sehingga beralih fungsi menjadi bagian dari narasi koleksi ini.
Palet warna koleksi ini terdiri dari ungu lilac, pink muda biru telur asin, hijau lemon, hitam, krem, denim, dan putih. Beberapa warna-warna tersebut memang pada awalnya merupakan hasil dari proses seleksi limbah tekstil, namun juga memantulkan keanggunan dan keceriaan Belle Époque sekaligus menyuarakan energi berani ala Teddy Boys. Ungu lilac dan pink menghadirkan nuansa aristokrat, hijau lemon dan biru telur asin memberi kesegaran kontemporer, sementara hitam, krem, dan putih menyeimbangkan narasi dengan kesan klasik dan murni. Detail dekorasi diperkuat dengan payet dan bebatuan yang menjuntai, hasil kolaborasi bersama Everything Small, label yang mengeksplorasi teknik sulaman manik dengan pendekatan eksperimental.
Koleksi Resonance menampilkan keragaman siluet yang kaya akan kontras namun tetap menyatu dalam narasi besar tentang kesenjangan dan keberlanjutan. Siluet busana terdiri dari shirtdress dengan draping yang menjuntai, memberikan kesan kelembutan khas Belle Époque, kemeja gombrong dengan detail pita, yang menghadirkan kesan anggun sekaligus bebas; serta blazer berstruktur dengan aksen ruffles yang feminin, ceria, namun tetap tegas. Detail pita dan ruffles muncul sebagai aksen khas era Belle Époque, dipadukan dengan nuansa streetwear yang maskulin sekaligus feminin, selayaknya gaya Teddy Boys & Girls. Selain itu, hadir pula beberapa tampilan outerwear oversized yang bergaya klasik dan tak lekang oleh waktu, namun diperkaya dengan detail ruffles serta struktur yang dirancang lebih tegas, segar dan relevan dengan arah tren mode tahun 2026.
Detail-detail kontras ini merupakan ciri khas dari setiap rancangan Rinda Salmun sejak awal berdiri di tahun 2010, namun pada koleksi Resonance ini, mencerminkan bagaimana busana dapat menjadi medium redefinisi—sebuah usaha untuk mendefinisikan kembali keindahan di tengah kekacauan. Koleksi ini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara aristokrasi dan pemberontakan, serta antara estetika dan keberlanjutan.


