Warnaplus,Jakarta– Mahasiswa LSPR Communication & Business Institute dari konsentrasi Public Relations & Digital Communication (PRDC27-19P) menggelar program Community Development bertajuk “Pesanggrahan Berpijar” di RPTRA Nusantara, Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Minggu (21/6/2026).
Program ini hadir sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap permasalahan limbah minyak jelantah yang masih sering dibuang sembarangan dan berpotensi mencemari lingkungan. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak memahami cara pengelolaan minyak jelantah sekaligus mengubahnya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, seperti lilin aromaterapi.
Perwakilan Kelurahan Ulujami, Subianto, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif mahasiswa LSPR yang turun langsung ke masyarakat melalui program pemberdayaan lingkungan.
“Kami menyambut baik kegiatan ini karena memberikan edukasi dan manfaat nyata bagi warga. Harapannya program seperti ini dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi masyarakat Ulujami,” ujarnya.
Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi LSPR Communication & Business Institute, Dr. Joe Harrianto Setiawan, M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut sejalan dengan komitmen kampus dalam mendorong mahasiswa terjun langsung ke masyarakat.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Mahasiswa tidak boleh hanya belajar di dalam kampus. Mereka harus melihat langsung persoalan yang ada di masyarakat dan berupaya memberikan solusi yang sesuai. Melalui program ini, mahasiswa belajar dari masyarakat sekaligus memberikan kontribusi nyata,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Akademi Kompos, Aulia Trisakamila, menjelaskan bahwa lembaganya berfokus pada edukasi dan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Ia berharap kolaborasi bersama LSPR melalui Pesanggrahan Berpijar dapat terus berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas.
“Harapan kami kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini. Semoga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara berkelanjutan dan menjadi inspirasi bagi wilayah lainnya dalam mengelola limbah rumah tangga,” tutur Aulia.
Sementara itu, dosen pendamping program, Salsabila, menyoroti dampak negatif minyak jelantah terhadap lingkungan dan kesehatan apabila tidak dikelola dengan baik.
Menurutnya, limbah minyak jelantah yang dibuang sembarangan dapat mencemari tanah dan saluran air. Selain itu, penggunaan minyak goreng secara berulang juga berisiko bagi kesehatan.
“Karena itu kami melihat perlunya edukasi kepada masyarakat agar minyak jelantah tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi komitmen LSPR dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) melalui program pengabdian kepada masyarakat.
Ketua Pelaksana Pesanggrahan Berpijar, Chrisyella Cysile Tanada, mengatakan bahwa program tersebut dirancang untuk memberikan solusi sederhana namun berdampak bagi masyarakat.
“Minyak jelantah yang selama ini dianggap sebagai limbah ternyata dapat diolah menjadi produk bernilai guna. Melalui workshop ini kami ingin memberikan pengetahuan baru sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” katanya.
Sebelum acara puncak, tim Pesanggrahan Berpijar juga melaksanakan program “Pesanggrahan Berpijar Goes to School” di SMK Perwira Jakarta. Kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 70 siswa dalam edukasi interaktif mengenai pengelolaan limbah dan pentingnya menjaga lingkungan sejak usia muda.
Pada acara utama, peserta mengikuti workshop pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi yang dipandu oleh Akademi Kompos. Selain itu, tersedia area pameran yang menampilkan berbagai produk hasil pengolahan minyak jelantah sebagai bentuk edukasi sekaligus inspirasi bagi masyarakat.
Melalui program ini, Pesanggrahan Berpijar diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga, sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis lingkungan yang berkelanjutan bagi warga Ulujami dan sekitarnya.(Rizky.Foto:Zulmi)


