Friday, February 13, 2026
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeArt & CultureMORAL Menghentak Jakarta Fashion Week 2026 dengan "MORAL / tempo": Manifesto Pemberontakan...

MORAL Menghentak Jakarta Fashion Week 2026 dengan “MORAL / tempo”: Manifesto Pemberontakan Wastra dalam Ritme Urban

JAKARTA — Moral mengumumkan peluncuran koleksi terbarunya,”MORAL / tempo,” sebagai manifesto busana yang berani dan jujur, di panggung Jakarta Fashion Week (JFW) 2026. Koleksi yang lahir dari detak, bukan dari nada, ini merupakan eksplorasi eksperimental wastra tradisional yang dikerjakan melalui kolaborasi organik bersamaCita Tenun Indonesia (CTI). 

MORAL memandang wastra bukan sebagai benda masa lalu yang harus disakralkan, melainkan sebagai medium hidup yang terus berevolusi, layaknya ritme dalam musik independen. Karena warisan bukan beban, melainkan bahan bakar untuk bergerak maju. 

“Itulah sebabnya kami tidak hanya mengambil motif atau teknik tenun, tetapi juga mencoba menangkap energi yang tertanam di dalamnya: waktu, pekerjaan tangan,filosofi, serta emosi yang menjadikan setiap helai benang memiliki kehidupan sendiri,” ujarAndandika Surasetja selakuCreativeDirector MORAL. 

“Bagi kami, koleksi ini berani membawa tenun keluar dari ruang tradisional menuju konteks urban yang jujur, menyajikan dialog yang radikal namun relevan bersama generasi masa kini yang jujur dan berani,” jelasnya lagi. 

“MORAL /tempo”: ManifestasiTubuh dalam 13Tampilan 

“MORAL / tempo” lahir dari denyut yang menolak diatur. Tema ini bukan sekadarritme,tapi sikap, perlawanan terhadap keheningan yang dipaksakan. Koleksi ini bukanlah sekadar busana, ia adalah manifesto tubuh dalam 13 tampilan (13 looks)—sebuah ajakan untuk memakai perlawanan. 

Wastra Tenun dalam koleksi ini diolah seperti distorsi gitar yang menggema di ruang kosong, nyaring, berisik, tapi jujur. Ada tenun yang dipotong asimetris seperti melawan garis waktu, logam yang ditanam seperti luka yang indah, dan kulit yang dimainkan seperti lapisan emosi yang tak bisa dirapikan. 

OrkestraTekstil LintasDisiplin 

Koleksi ini lahir dari permainan material dan tekstur yang menampilkan dialog tajam antara tradisi dan modernitas. Raw Denim Selvedge dalam warna indigo dan hitam pekat menjadi dasar yang kokoh—kasar namun elegan. Kolaborasi grafis digital bersama KYUB menerjemahkan motif tenun ke dalam medium kain lentur, menciptakan ketegangan antara struktur dan kebebasan, kontras dengan karakter kaku tenun dan denim.Bersama Long Story Short, hadir pula anyaman rotan berbentuk figurfauna yang terinspirasi dari motif tenun Lombok, menjadi simbol kesinambungan antara tangan manusia dan alam. Sementara itu, kolaborasi dengan PEAU menghadirkan rok lipit dari logam dan kulit, memadukan keras dan lembut, denting dan desir dalam satu harmoni. Keseluruhan tampilan disempurnakan oleh aksesori buatan tangan dari jenama Aidan and Ice, yang menegaskan karakter radikal namun tetap berkeanggunan. Setiap elemen berpadu dalam satu orkestra tekstil yang bergerak mengikutiritmewaktu yang terus berdetak

MenyuarakanKejujuran Lokal,BerbicaraBahasaUniversal 

Bagi MORAL, relevansi global tidak muncul dari mengejar tren, melainkan dari menghadirkan kejujuran dalam konteks lokal. Koleksi ini mengangkat narasi dan energi lokal, namun dikemas dengan pendekatan visual yang universal melalui siluet busana yang oversized, organic layering, serta potongan eksperimental yang beresonansi dengan budaya jalanan kontemporer. 

Dibuat di Indonesia, namun berbicara dengan bahasa visual yang dapat memantik diskusi tanpa batasan geografis,”tegasAndandika. 

Tantangan terbesar dalam proses kreatif, yakni menyeimbangkan rasa hormat dan berani melampaui batas, dijawab dengan tindakan ekstrem, seperti memotong tenun untuk digabungkan dengan denim. Tindakan ini menghasilkan pemahaman baru: bahwa tradisi tidak akan punah selama diberi kesempatan untuk bernapas dalam bentuk yang berbeda. 

Masa depan mode Indonesia bukan tentang kemewahan,tetapitentang keteguhan untuk terus bereksperimen, menyuarakan identitas, dan menciptakan bahasa visual yang relevan lintas generasi,” tutup Andandika. Hidup dulu, baru berkarya. Karena hanya dari hidup yang penuh luka, jeda, dan keberanian, lahir karya yang benar benar punya suara.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments