Wednesday, February 11, 2026
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeArt & CultureMendefinisi Ulang Pengalaman Diaspora Melalui Festival “Dealing in Distance”

Mendefinisi Ulang Pengalaman Diaspora Melalui Festival “Dealing in Distance”

DENPASAR – Goethe-Institut Indonesien akan menyelenggarakan festival mini  berjudul “Dealing in Distance” yang menampilkan karya seniman-seniman Asia  Tenggara dan diaspora yang berbasis di Jerman dan di Asia Tenggara. Festival  tersebut akan berlangsung di berbagai lokasi di Denpasar, Bali, pada tanggal  22-25 Januari 2026, mengikuti penyelenggaraan di Hanoi dan Ho Chi Minh City  di minggu pertama dan kedua bulan Januari 2026. Mengeksplorasi berbagai  pengertian tentang diaspora, migrasi, dan identitas ditinjau dari beragam sudut  pandang dan pengalaman pribadi, proses kerja festival “Dealing in Distance”  telah berjalan sejak 2023 yang mencakup pertemuan untuk berjejaring dan  program residensi. 

Secara keseluruhan ada lebih dari 15 seniman yang karyanya akan ditampilkan dalam festival. Berasal dari Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Laos serta para  seniman Asia Tenggara yang berbasis di Jerman. Para seniman ini merupakan  kombinasi peserta program residensi “Dealing in Distance” di Indonesia,  Filipina, dan Vietnam, mereka yang lolos seleksi panggilan terbuka, serta para  seniman lokal yang dipilih oleh kurator lokal. 

Festival ini menawarkan dialog lintas budaya antara para seniman dan  komunitas lokal melalui serangkaian pameran, penampilan, lokakarya,  pemutaran film, dan program-program satelit lainnya yang dikurasi secara  kolaboratif bersama kurator lokal. 

“’Dealing in Distance’ hendak mengajak berbagai komunitas untuk memperluas pemahaman konseptual kita mengenai identitas diaspora dengan rasa peduli,  dan menyimak melampaui apa yang tampak,” demikian yang disampaikan oleh  Marguerite Rumpf, Kepala Program Budaya Goethe-Institut Indonesien. Ia  menambahkan, “Acara ini juga mendorong partisipasi publik dalam praktik  penciptaan gagasan terkait rumah secara kolektif, serta pembacaan dan  pemaknaan kembali arti rumah dan rasa memiliki.” 

Kurator regional festival ini, Nguyen Hai Yen (Red) menggunakan filosofi  Deleuze dan Guatarri mengenai rimpang sebagai basis untuk mendekonstruksi  ‘diaspora’. Mereka menyatakan bahwa “segala hal” di dunia merupakan rimpang  – atau saling terhubung seperti rimpang. Semuanya merupakan kumpulan yang  terhubung dengan kumpulan lain; jaringan yang terhubung dengan jaringan  lain. Rimpang tidak terbatas pada ruang tertentu, melainkan terus tumbuh,  beradaptasi, membentuk hubungan baru dengan beragam kumpulan berbeda. 

Lebih lanjut, kurator asal Vietnam ini mencatat, “Dalam kerangka yang sama,  jarak dapat dipandang bukan sebagai elemen perpindahan geografis yang  terukur, melainkan sebagai ‘sebuah tempat’, ‘sebuah tempat dalam progres’,  ‘sebuah tempat antara’. Kerangka ini mengusulkan untuk menghadapi jarak  bukan sebagai tantangan yang perlu diatasi, tetapi sebagai metode untuk  beralih dari satu hal ke hal lainnya. Dengan demikian, ‘Dealing in Distance’ memberi tempat bagi kenangan dan imajinasi para seniman yang ditampilkan.” 

Untuk informasi lebih lanjut mengenai festival “Dealing in Distance” termasuk  tempat acara dan registrasi untuk mengikuti sesi-sesinya, silakan kunjungi www.instagram.com/goetheinstitut_indonesien 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments