warnaplus.press, Jakarta – Memasuki tahun 2026, tantangan transformasi digital Indonesia tidak lagi berkutat pada percepatan adopsi, melainkan pada penguatan fondasi teknologi informasi dan keamanan siber. Ketergantungan yang semakin tinggi terhadap sistem digital menuntut kesiapan yang lebih matang dari sisi tata kelola, integrasi, dan perlindungan data.
Sepanjang 2025, sistem digital telah menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi, layanan publik, dan operasional korporasi. Perubahan paling mencolok dibandingkan tahun-tahun sebelumnya adalah meningkatnya ketergantungan pada infrastruktur digital, yang kini menjadi elemen krusial dalam menjaga keberlangsungan bisnis dan stabilitas layanan publik.
Seiring memasuki 2026, berbagai keputusan strategis di bidang enterprise IT yang diambil dalam dua tahun terakhir mulai menunjukkan dampaknya. Risiko yang muncul tidak lagi bersifat teoritis, tetapi nyata dalam bentuk gangguan operasional, celah tata kelola, serta ancaman terhadap daya saing nasional.
Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia menjadi indikator jelas dari ketergantungan tersebut. Nilai ekonomi digital yang diproyeksikan mendekati USD 100 miliar menempatkan Indonesia sebagai yang terbesar di Asia Tenggara, dengan e-commerce, layanan keuangan digital, dan media online sebagai penggerak utama.
Dari sisi masyarakat, penetrasi internet yang telah menjangkau lebih dari 70 persen populasi menunjukkan bahwa layanan digital kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Gangguan sistem atau kebocoran data tidak lagi berdampak terbatas pada unit IT, tetapi dapat memicu konsekuensi sosial dan ekonomi yang lebih luas.
Namun demikian, percepatan adopsi digital belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan tata kelola. Fragmentasi pengelolaan sistem, kapasitas keamanan siber yang belum merata, serta koordinasi lintas lembaga yang masih terbatas menjadi tantangan struktural yang harus segera dibenahi.
Di sisi lain, tren peningkatan insiden siber pada sektor publik dan swasta memperlihatkan urgensi penguatan sistem pertahanan digital. Kompleksitas infrastruktur yang tumbuh cepat tanpa integrasi menyeluruh memunculkan risiko laten yang mulai terasa dampaknya dalam bentuk gangguan layanan dan meningkatnya downtime.
Salah satu persoalan krusial adalah sistem pemantauan IT dan keamanan yang masih terpisah-pisah. Penggunaan berbagai alat berbeda tanpa integrasi menyeluruh menyulitkan organisasi memperoleh visibilitas utuh terhadap kondisi sistem, sehingga respons terhadap insiden sering kali berjalan lambat.


