HomeBreaking NewsIndonesia Punya Buku Panduan Perfilman Inklusif: Langkah Baru Industri Film Biar Makin...

Indonesia Punya Buku Panduan Perfilman Inklusif: Langkah Baru Industri Film Biar Makin “Woke” dan Aksesibel

Buku Panduan Perfilman Inklusif

Industri film Indonesia lagi bergerak ke arah yang jauh lebih seru — dan lebih penting: lebih inklusif.

Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI) bareng Kementerian Kebudayaan RI akhirnya ngerilis Buku Panduan Perfilman Inklusif, sebuah panduan yang sengaja dibuat biar pelaku kreatif, sineas, sampai komunitas film bisa bikin produksi yang ramah dan bisa diakses penyandang disabilitas.

Yes, ini bukan sekadar “buku teknis”. Ini semacam “update sistem” untuk dunia perfilman Nusantara.

Buku yang Dibikin Bareng, Bukan Buat Satu Kelompok Aja

Ketua tim penulisnya, Dr. Suzen H.R. Lumban Tobing, bilang kalau buku ini lahir dari kerja panjang lintas sektor. Mulai dari Direktorat Perfilman, Musik, dan Seni, sampai dosen IKJ, sineas, Komnas Disabilitas, PPDI, dan para penggiat isu inklusi.

Yang bikin pop-culture banget adalah pendekatannya: buku ini bukan “bikinan orang luar yang menebak-nebak”, tapi disusun bareng komunitas disabilitas sendiri. Teman-teman tuna rungu bahkan terlibat aktif dalam proses penerjemahan bahasa isyarat.

Menurut Dr. Suzen, buku ini sengaja dibuat open-ended: “Belum sempurna, tapi memang harus terus berkembang. Kita bikin ini bareng, bukan cuma untuk komunitas disabilitas, tapi dengan mereka.”

🎭 Lebih dari Sekadar Buku — Ini Gerakan

Peluncurannya sengaja dirayakan di momen Hari Disabilitas Internasional.

Biar energinya dapet: ini bukan proyek satu malam, tapi langkah panjang buat bikin film Indonesia punya ruang yang adil, aman, dan nyaman bagi semua orang.

Dr. Suzen juga berharap buku ini jadi pintu buat sineas angkat cerita tentang disabilitas secara empatik, bukan eksploitatif. Bukan lagi karakter difabel dijadikan objek kasihan, tapi tokoh yang punya kedalaman, agensi, dan cerita.

Zaman Berubah Cepat — Pedoman Juga Harus Ikut Lari

Direktur Perfilman, Musik, dan Seni Dr. Syaifullah Agam punya statement yang cukup “wake-up call”:

“Buku ini bukan kitab suci. Undang-undang saja direvisi, apalagi pedoman teknis yang harus mengikuti perkembangan zaman.”

Masuk akal sih, mengingat teknologi film sekarang udah makin wild: audio visual super-realistis, desain produksi makin detail, dan standar aksesibilitas global juga makin berkembang. Mau nggak mau, pedoman harus gesit, adaptif, dan serba update — layaknya software.

🌈 Disabilitas Itu Bukan Beban. Titik.

Syaifullah juga cerita pengalaman personal waktu kuliah bareng mahasiswa low-vision yang justru tampil outstanding karena dapet akses yang mendukung.

Pesannya jelas:
“Keterbatasan bisa jadi kelebihan kalau kita kasih ruang.”

Karena itu, ia dorong talenta disabilitas buat masuk ke ruang kreatif yang lebih luas, termasuk kompetisi penulisan skenario. Menurutnya, kualitas cerita lahir dari riset dan imajinasi, bukan dari kondisi fisik seseorang.

🎥 Kenapa Ini Penting ?

Karena tren global juga lagi ke arah yang sama. Production house luar mulai punya access coordinator, inclusive casting, dan desain set yang ramah difabel.
Dan Indonesia? Mulai catch up.

Dengan panduan ini:

  • karakter disabilitas bisa ditulis lebih realistis

  • talent belakang layar makin beragam

  • produksi film jadi lebih profesional

  • dan kita dapat cerita yang lebih jujur, lebih kompleks, lebih manusiawi

Ini bukan cuma soal representasi — tapi soal bikin film yang lebih kaya dan lebih dekat dengan realitas.

🎬 Kesimpulan: Ini Bukan Sekadar Buku, Tapi Era Baru

Peluncuran Buku Panduan Perfilman Inklusif menandai langkah penting menuju industri film Indonesia yang makin maju, empatik, dan relevan secara global.

Kalau tren ini terus dijaga, bukan nggak mungkin industri film kita bakal makin diperhitungkan di level internasional — bukan cuma karena kualitas visual, tapi juga karena nilai kemanusiaannya.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments