MEMBUKA LEMBARAN BARU
Berpulangnya salah satu gitaris DTS Voices yaitu Ronaldi, menjadi titik balik bagi DTS Voices untuk bekerja dalam dua regu demi efektivitas dan efisiensi terlaksananya kegiatan mereka selanjutnya. Yang pertama adalah grup band dengan formasi tetap yang disebut Regu B, terdiri atas Alia & Dewi (vokal), Fery & Rifqi (gitar), Fachri (bass), Dhika (drum), dan Bayu (perkusi & alat ritmik). Regu ini bertugas memproduksi, merekam, dan merilis lagu-lagu baru secara berkala, serta menampilkannya sebagai karya musik yang utuh dengan aransemen baku. Jika diminta, mereka juga bisa membawakan dongeng sebagai selingan singkat dalam sebuah pertunjukan musik. Kelompok kedua adalah Regu D dengan anggota 2-3 orang dengan formasi bongkar-pasang, yang disesuaikan dengan waktu luang masing-masing. Kelompok ini bertugas memperkenalkan lagu-lagu DTS Voices melalui dongeng.
MENDADAK PANGGUNG SERU
Minggu siang 18 Januari lalu menjadi momen seru bagi saya karena saya tiba-tiba menemukan tiga anggota DTS Voices dari Regu D yang sedang bersiap-siap tampil, di salah satu selasar di Taman Lapangan Banteng. Saya tanya tanya apakah warga umum boleh nonton, dan mereka mempersilakan dengan tangan terbuka. Sejujurnya saya agak heran, jika ini terbuka untuk umum, mengapa tidak dipromosikan di IG mereka? Saya juga jadi penasaran, siapa sih yang ulang tahun? Ternyata itu bukan HUT anak, melainkan HUT sebuah perkumpulan bernama Kirakirataiko. Perkumpulan apa itu?
Berbekal dua lagu dari album perdana bertajuk SIMFONI SATWA, di Panggung Seru kali ini, Bambang dan Ratih membawakan lagu GAJAH dan LEBAH diiringi gitar Bagas. Dongeng tentang gajah diambil dari cerpen berjudul KE MANA BUAH PERGI? karya Sarah Fauziah dalam buku kumcer bertajuk PENJAGA BINTANG. Dongeng tentang lebah disampaikan berdasarkan cerpen berjudul AYO MENDENGUNG! karya Sarah Prasasti & Angela Andriono dalam buku kumcer berjudul SUARA KECIL DI RIMBA WARNA-WARNI. Kedua buku ini diterbitkan oleh CERITA ANAK BERGERAK.
Anak-anak Kirakirataiko duduk berkumpul di atas empat lembar tikar plastik, bergabung dengan beberapa anggota keluarga personel DTS Voices. Para anggota keluarga tersebut bertugas membuat dokumentasi dan membantu kelancaran pertunjukan hari itu. Sinergi yang hebat! Seperti biasa, pertunjukan dibuka dengan jingle DTS Voices berjudul DENGAR, TIRU, SERAP. Begitu jingle mulai dimainkan, sontak menggoyangkan badan sambil bertepuk gembira. Tanpa sadar, saya tersenyum lebar. Di tengah pertunjukan, datang juga Alia, vokalis dari DTS Voices Regu B. Sebuah kekompakan kelompok besar yang luar biasa!
TENTANG KIRAKIRATAIKO
Ternyata Kirakirataiko itu grup perkusionis muda yang semua anggotanya adalah anak-anak berkebutuhan khusus—sebagian besar penyandang down syndrome. Di HUT ke-2, anak-anak hebat itu berkumpul ditemani orang tua mereka yang sebagian besar adalah anggota POTADS (Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome), sebuah organisasi yang berfokus pada: dukungan bagi orang tua, edukasi tentang down syndrome, advokasi hak anak, dan kegiatan sosial–edukatif untuk anak & keluarga.
ACARA PADAT YANG SERU
Selesai menonton DTS Voices, kedua kelompok itu: Kirakirataiko dan DTS Voices makan-minum bersama sambil mengobrol santai. Rupanya mereka sudah janjian untuk potluck—masing-masing membawa makanan/minuman untuk dinikmati bersama. Saya sempat melipir untuk jajan mie ayam gerobak di parkiran Taman Lapangan Banteng depan Hotel Borobudur, lalu kembali ke lokasi! Setelah semua kenyang, giliran DTS Voices (dan beberapa warga termasuk saya) yang menonton penampilan anak-anak hebat Kirakirataiko dalam serangkaian latihan. Anak-anak hebat ini memancarkan energi kegembiraan saat memainkan aneka ritme berhias gerakan dan nyanyian bersama pelatih mereka. Melihat penampilan mereka, saya terpesona dan terharu.
Saat melihat empat anggota DTS Voices dan keluarga pamit pulang pada anak-anak hebat Kirakirataiko dan orang tua mereka, diam-diam saya berdoa agar dua kelompok itu—DTS Voices dan Kirakirataiko—bisa melangkah bersama untuk waktu yang lama. Indonesia membutuhkan DTS Voices, yang mau terus berjuang menghasilkan lagu-lagu anak berkualitas. Yang belum pernah menikmati karya mereka, mampirlah ke https://www.youtube.com/@DTSVoices. Anda tidak akan menyesal!
Setelah DTS Voices pergi, peringatan HUT Kirakirataiko terus berjalan meriah karena anak-anak masih terus bermain dan bersenang-senang, sambil menunggu atraksi air mancur menari senja itu. Indonesia membutuhkan Kirakirataiko, yang terus menebarkan semangat dan inspirasi, serta mengedukasi tentang pentingnya empati. Jangan lupa dukung kegiatan Kirakirataiko di https://www.instagram.com/kirakirataiko/ dan kegiatan orang tua hebat mereka di https://www.youtube.com/watch?v=k_kpvE5gR8M


