Hubungan seni antara India dan Indonesia semakin erat terjalin, khususnya melalui proses alihwahana yang indah di dua ranah kesenian. Pada Minggu, 18 Januari lalu, di The Dharmawangsa Hotel, Jakarta Selatan, komponis & pianis Ananda Sukarlan dengan penuh kepekaan memperdengarkan tiga tembang puitik ciptaannya yang terinspirasi dari puisi-puisi Rabindranath Tagore: Passing Breeze, My Song, dan Go Not To The Temple. Yang terakhir ini begitu istimewa, karena puisi tersebut ditulis Tagore tepat saat ia mengunjungi Bali—sebuah momen yang menyatukan roh dua negeri dalam harmoni lirik dan nada.
Cuplikan dari tiga lagu itu dapat disaksikan di Youtube :

Konser Ananda Sukarlan ini adalah penutup dari rangkaian perayaan pernikahan pasangan Anjuli & Varun. Anjuli adalah putri dari seniman India terkemuka Arti Gidwani dan suaminya Anil. Rangkaian acara ini telah berlangsung di India dan di Jakarta selama akhir pekan 17 dan 18 Januari kemarin di Hotel The Dharmawangsa. Penutup ini memang istimewa, dikhususkan untuk para penonton kelas VVIP dan penikmat seni. Hadir tokoh creme de la creme bukan hanya nasional seperti desainer Poppy Dharsono, pengusaha Karlina Damiri dan Sari Kusumaningrum, tokoh kuliner dan penulis Petty Elliott tapi juga kalangan diplomat antara lain mantan duta besar Inggris untuk RI 2014-2018 Moazzam Malik dan istri, Duta Besar Armenia untuk RI Serob Bejanyan dan istri, Duta Besar Austria untuk RI Thomas Loidl dan istri, Dubes Polandia Barbara Szymanowska, Dubes Hungaria Lilla Karsay, Dubes Panama Manuel Antonio Saturno Escala, Dubes Swiss Olivier Zehnder dan istri (Frédérique Zehnder-Mérot), istri Dubes Bangladesh Humaira Ayesha Khan dan tentu Duta Besar India untuk RI Sandeep Chakravorty dan istri.

Ananda Sukarlan mempersembahkan beberapa karya piano solonya yang virtuosik dan sudah cukup populer di kalangan pecinta musik klasik, seperti Rapsodia Nusantara no. 36 dan no. 39 (untuk tangan kiri saja) serta Variations on Mendelssohn’s “Wedding March” (dikemas sedemikian rupa hingga memberi suasana Jawa dan Bali).
Untuk pagelaran perdana “Three Poems of Rabindranath Tagore” Ananda mempercayai part vokalnya kepada soprano Iva Khuang, peraih gelar Master of Music dari Codarts Conservatory, Rotterdam yang pernah menjadi finalis di Ananda Sukarlan Award 2021.
Hubungan kesenian Ananda Sukarlan dengan India yang cukup erat ini telah dicatat oleh Dr. Amit Nagpal di bukunya “Heroes Amongst Us”, sebuah kumpulan kisah 32 tokoh inspiratif Asia dari berbagai bidang, diterbitkan oleh Oakbridge Publishing di India.
Tahun 2026 ini juga ditandai dengan rilis rekaman Ananda dengan musik komponis India Naresh Sohal (18 September 1939 – 30 April 2018), komponis India pertama dalam tradisi “klasik Barat” yang menulis musik dari teks dalam bahasa Punjabi dan Bengali (meskipun ia juga membuat banyak karya berdasarkan karya sastra bahasa Inggris). Rekaman ini dirilis dalam bentuk Compact Disc di bawah label Heritage Records dan kini sudah dapat diunduh di spotify dan youtube.
Lahir di Punjab (India), Naresh Sohal adalah orang India Non-Residen (NRI) pertama yang pernah dianugerahi Padma Shri (Order of the Lotus, penghargaan sipil tertinggi oleh Pemerintah India.
Naresh Sohal sering menghadiri konser Ananda Sukarlan dan pemain cello terkemuka Sri Lanka, Rohan de Saram setiap kali mereka konser di London.
Ia kemudian terinspirasi untuk menciptakan “Foray” khusus untuk Ananda Sukarlan dan Rohan de Saram. Karya ini kini diakui sebagai mahakarya untuk piano dan cello, telah dibawakan oleh banyak duo lain—terutama setelah kepergian Rohan de Saram pada 2024. “Foray” dipesan oleh BBC Spitalfields Festival untuk diperdanakan oleh Sukarlan dan de Saram pada 6 Juni 2006, lalu ditampilkan oleh keduanya di berbagai negara Eropa. Rekaman yang akan tayang ini adalah dari BBC, dan memperkaya sejarah satu lagi dokumentasi sejarah hubungan India dan Indonesia melalui musik klasik.


