Thursday, February 5, 2026
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeSocialKepercayaan Konsumen Indonesia Melemah: Korupsi, Pengangguran, dan Ketimpangan Sosial Jadi Kekhawatiran...

Kepercayaan Konsumen Indonesia Melemah: Korupsi, Pengangguran, dan Ketimpangan Sosial Jadi Kekhawatiran Utama

Jakarta Ipsos, perusahaan riset pasar global terkemuka, merilis laporan  terbarunya bertajuk Ipsos What Worries Indonesia H1 2025, yang mengungkap meningkatnya  kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan sosial di tengah ketidakpastian  global. Laporan ini menyoroti bahwa korupsi, pengangguran, dan ketimpangan sosial menjadi tiga isu utama yang paling dikhawatirkan masyarakat Indonesia pada paruh pertama  tahun ini. 

Berdasarkan survei terhadap lebih dari 25.000 responden di 30 negara, tercatat 68%  masyarakat Indonesia menempatkan korupsi politik dan finansial sebagai kekhawatiran  tertinggi, diikuti pengangguran (55%) dan ketimpangan sosial (47%). Angka ini  menunjukkan tingkat kekhawatiran yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata global. 

“Masyarakat Indonesia kini lebih berhati-hati dalam memandang kondisi ekonomi dan pasar  kerja, seiring menurunnya optimisme terhadap situasi keuangan pribadi mereka,” ujar Hansal  Savla, Managing Director Ipsos Indonesia. “Namun demikian, masyarakat Indonesia masih  menunjukkan ketahanan dan optimisme yang relatif lebih tinggi dibandingkan rata-rata  global.” 

Optimisme Ekonomi Menurun, Namun Mulai Pulih di Oktober 

Penurunan tingkat optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi terlihat jelas dalam dua  bulan terakhir, dengan Ipsos Global Consumer Confidence Index (GCCI) Indonesia tercatat  menurun 9,6 poin dibandingkan periode sebelumnya. Namun, pada Oktober 2025, tren ini  mulai menunjukkan tanda pemulihan dengan kenaikan sebesar 6 poin, seiring dengan  langkah-langkah pemerintah dalam memperkuat stabilitas ekonomi nasional.

Pemerintah Indonesia berupaya menjaga daya beli masyarakat serta memulihkan  kepercayaan terhadap perekenomian melalui berbagai kebijakan fiskal dan stimulus. Salah  satunya adalah kebijakan pemberian insentif sebesar Rp200 triliun yang dialokasikan untuk  memperkuat sektor riil, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong konsumsi rumah  tangga. Selain itu, adanya perombakan kabinet baru-baru ini juga dinilai oleh publik dan  pelaku pasar sebagai langkah positif untuk memperkuat koordinasi serta efektivitas  kebijakan ekonomi ke depan. 

Temuan Ipsos juga menunjukkan penurunan persepsi positif terhadap ekonomi nasional di  seluruh kelompok usia. Terdapat 48% responden milenial dan 34% Gen Z yang menilai  kondisi ekonomi Indonesia saat ini “baik”, sementara 53% milenial dan 66% Gen Z menilainya  “buruk”. Hampir setengah masyarakat (49%) juga mengaku belum yakin bahwa kondisi  keuangan pribadi mereka akan membaik dalam enam bulan ke depan. 

Ketimpangan Sosial dan Perbedaan Nilai Semakin Terasa 

Sebanyak 52% masyarakat Indonesia menilai bahwa “masyarakat saat ini sedang dalam  kondisi rapuh”, dengan kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin (80%) menjadi  sumber ketegangan terbesar, disusul perbedaan nilai antara kelompok liberal dan  tradisional (61%)

Isu kesetaraan gender juga menjadi perhatian publik. Sebanyak 73% responden menganggap kesetaraan gender penting secara pribadi, sementara 56% pria dan 64%  wanita menilai bahwa kebijakan perusahaan yang mendukung kesetaraan telah  memberikan dampak positif bagi masyarakat. Secara keseluruhan, 63% masyarakat  Indonesia percaya bahwa peluang bagi perempuan kini sudah relatif setara di berbagai  sektor. 

Inflasi dan Pajak Masih Jadi Sorotan 

Dalam konteks ekonomi, 69% masyarakat memperkirakan tingkat inflasi akan terus  meningkat, 63% mengkhawatirkan kenaikan suku bunga, dan 54% memperkirakan  peningkatan beban pajak tahun ini. Isu mengenai pajak dan inflasi juga menjadi topik yang  banyak dibicarakan di media sosial, dengan sekitar 13% percakapan publik menyinggung  kedua hal tersebut. 

Hansal Savla menambahkan, “Kombinasi antara tekanan ekonomi dan dinamika sosial  menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia tengah mencari stabilitas — baik secara finansial  maupun emosional. Bagi pelaku bisnis, ini adalah momen penting untuk membangun  kepercayaan melalui komunikasi yang transparan, penawaran nilai yang relevan, inovasi yang  berfokus pada kebutuhan inti, serta komitmen terhadap tanggung jawab sosial.”

Implikasi bagi Dunia Usaha 

Ipsos menilai, meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi membuat konsumen  kini lebih selektif dan berfokus pada nilai guna atas harga (value for money). Brand yang mampu menampilkan nilai yang jelas, komunikasi yang transparan, penawaran  yang fleksibel, serta fokus pada kebutuhan esensial akan lebih dipercaya oleh konsumen.  Selain itu, perusahaan yang mengedepankan kepercayaan, inovasi, dan inklusivitas akan  menjadi pembeda penting di tengah situasi yang penuh ketidakpastian. 

Metodologi 

Laporan What Worries Indonesia H1 2025 merupakan bagian dari studi global Ipsos What  Worries the World yang dilakukan secara daring terhadap lebih dari 25.000 responden  berusia 16–74 tahun di 30 negara, termasuk Indonesia. Pengumpulan data dilakukan pada  Juli hingga Agustus 2025, menggunakan sampel representatif nasional di masing-masing  negara. Sampel Indonesia mencakup sekitar 1.000 responden dan telah disesuaikan dengan  profil demografis nasional untuk memastikan hasil yang akurat dan mewakili populasi  dewasa di Indonesia. 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments