ASAL MULA
Juni 2010, DTS Voices lahir dari kegelisahan terhadap lirik-lirik lagu tertentu yang tidak ramah anak. Kelompok ini berdiri dengan misi edukasi merdu. Semula DTS adalah singkatan dari lokasi basecamp mereka di Duren Tiga Selatan. Setelah lokasinya berpindah, kepanjangan DTS disesuaikan menjadi Dengar, Tiru, Serap. DTS Voices seringkali menyajikan lagu-lagunya secara dwi bahasa: Indonesia dan Inggris. Pengucapan namanya pun mengandung dua unsur bahasa: Dé-Té-èS Voices.
MELANGKAH BERSAMA
Berbekal tiga lagu: AKU SUKA BACA/I LOVE READING, LUMBA-LUMBA, dan HAVE FUN WITH ENGLISH, DTS Voices mulai tampil di acara ulang tahun anak dari seorang teman. Seiring bertambahnya perbendaharaan lagu, Panggung Seru mereka berlanjut ke berbagai tempat dan acara seperti khitanan, Pesta Buku Jakarta, Indonesia Book Fair, Festival Pembaca Indonesia, Mobil Panda WWF dan acara-acara lainnya di Jakarta. April 2013, mereka memberanikan diri untuk meluncurkan album perdananya bertajuk SIMFONI SATWA yang berisi 11 lagu bertema satwa dengan bonus dongeng musikal.
PANGGUNG SERU DI FESTIVAL TAMAN 2025
Panggung Seru DTS Voices di Festival Taman 2025, diisi oleh DEWI (pelatih marching band/pengusaha kuliner) dan BAYU (karyawan) pada vokal, FERY (guru musik/personil band G-Pluck) dan BAGAS (karyawan) pada gitar, FACHRI (guru musik, pelatih marching band, motor kelompok Pojok Perkusi) pada bass, serta DHIKA (karyawan) pada cajon.
Namun demikian, DTS Voices bukanlah band dengan formasi yang baku. Mereka kerap kali tampil dengan formasi berbeda, saling mengisi dan melengkapi sesuai keterampilan dan waktu luang masing-masing. Di Festival Taman 2025, Dewi dan Bayu bergantian menjadi vokalis utama, mengisi kekosongan vokalis utama ALIA (karyawati/guru bahasa Inggris).
Di kesempatan lain, posisi gitar bisa diisi RONALDI (guru bahasa Inggris), WIDYA (pengajar matematika, fisika dan kimia), EPI (karyawan). Jika DHIKA perkusionis utama absen, kekosongannya diisi oleh Bayu. Empat anggota lainnya RUSLAN dan ANDIE (ilustrator), ISMU (karyawan), dan MEDI (karyawan) memilih untuk tidak lagi pentas, tapi tetap mendukung DTS Voices, dengan caranya sendiri. Selain para penampil, ada juga barisan penulis lagu yang terdiri atas RONALDI dan RATIH (guru bahasa Inggris) serta BAMBANG dan ERNA (penulis bacaan anak). Adapun SANDI, anggota yang telah berpulang, akan terus dikenang dan didoakan.
REHAT SEJENAK DAN KEMBALI MENGGEBRAK
Bermusik bukan hanya soal bagaimana menjadi klik dan harmonis dalam nada dan ritme, tapi juga soal mengatur waktu, energi, dan skala prioritas. Tuntutan profesi dan kehidupan pribadi masing-masing, membuat penampilan DTS Voices semakin jarang dan akhirnya tidur panjang dalam waktu yang terlalu lama. Bahkan dua dari 15 personel semakin dekat, menikah, dan kemudian memiliki dua anak. Tapi bagaimana caranya kembali, jika beberapa alat sudah rusak dan hilang?
Hari berganti, tahun berlalu. Para personel tetap menyimpan keinginan untuk kembali melangkah bersama. Diskusi-diskusi antar anggota yang dulu mengalir di Facebook, tersambung kembali di WhatsApp Group. Para anggotanya pun berencana aktif kembali dengan mengaktifkan sosial media mereka
https://www.instagram.com/dts_voices/
https://www.youtube.com/@DTSVoices
Ternyata tak semudah itu bagi DTS Voices untuk kembali menemukan panggung yang cocok. Beruntung ada Instagram yang menjadi wadah perjumpaan DTS Voices dengan Ayoketaman. Bincang-bincang santai dengan Kak Odel di DM berlanjut ke WhatsApp, dan sebuah kesempatan tiba-tiba terbuka. Tanpa ragu, DTS Voices memutuskan berkolaborasi dengan Ayoketaman untuk meramaikan Festival Taman 2025. Latihan-latihan pun kembali digulirkan. Ajaib, setelah sekian purnama berlalu ternyata sambung rasa antar personel DTS Voices masih ada, dan masih kuat.
AYOKETAMAN
Tak kalah kuat adalah hasrat komunitas Ayoketaman untuk terus mendorong warga bukan hanya untuk “ada” di ruang publik, tapi “menggunakan”, “merasakan”, dan “memberi masukan” atas ruang tersebut. Hal ini diwujudkan melalui kegiatan-kegiatan:
1.AKTIVASI RUANG sehingga warga benar-benar memakai ruang terbuka publik dan taman sebagai tempat berkegiatan.
2.EDUKASI ALAM & PENDIDIKAN LINGKUNGAN supaya warga makin dekat dengan alam dan memahami pentingnya ruang terbuka hijau.
3.PERENCANAAN RUANG PARTISIPATIF sehingga warga dapat berpartisipasi publik dalam proses perencanaan ruang terbuka hijau dan taman, bukan hanya sebagai pengguna.
4.KAMPANYE PERKOTAAN BERKELANJUTAN agar ruang terbuka publik dan taman diperlakukan sebagai bagian penting dari kota yang sehat dan lestari.
Ikuti terus kegiatan terbaru Ayoketaman yang unik, menarik, dan berdampak di
https://www.instagram.com/ayoketaman/
https://www.ayoketaman.com/


