Tuesday, February 17, 2026
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeHealthDari Tradisi ke Standar Industri Obat Herbal Global : WHO-IRCH Apresiasi...

Dari Tradisi ke Standar Industri Obat Herbal Global : WHO-IRCH Apresiasi Ekosistem Jahe Merah PT Bintang Toedjoe

Ket Foto: dr. Inggrid Tania, Ketua Perkumpulan Dokter Pengembangan Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) dalam sebuah siniar menyatakan ekosistem obat herbal dari hulu sampai hilir diperlukan agar produk bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dari sisi keamanan, kualitas, dan khasiat.

Jakarta — Kunjungan WHO–International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines (IRCH) meninjau inovasi dan teknologi pengolahan herbal di PT Bintang Toedjoe pekan lalu bermakna lebih dari sekadar meninjau performa usaha sebuah produsen farmasi herbal, namun juga pengakuan bagi Indonesia sebagai salah satu produsen obat herbal dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Tidak mengherankan jika Indonesia dipandang memiliki potensi besar dalam bidang pengobatan alami. Dengan pengetahuan lokal turun temurun yang disempurnakan melalui penelitian ilmiah serta pembentukan ekosistem yang memadai, Indonesia bisa jadi pemain kunci dalam pengembangan obat herbal modern di dunia. Hal ini bisa dimulai dari memaksimalkan salah satu herba asli Indonesia, jahe merah.

Menanggapi hal ini, dalam sebuah siniar yang ditayangkan di YouTube, dr. Inggrid Tania, Ketua Perkumpulan Dokter Pengembangan Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) juga menyatakan hal tersebut. “Ribuan tumbuhan sudah dimanfaatkan sebagai pengobatan herbal sejak zaman nenek moyang. Di Indonesia, kita sudah punya farmakope herbal untuk standarisasi produk herba. Ini menunjukkan kita memiliki pengetahuan mendalam terkait proses dan khasiat berbagai tumbuhan untuk pengobatan dan kesehatan. Salah satunya jahe merah yang banyak jadi pilihan orang, apalagi ketika pandemi COVID-19 lalu,” jelas dokter Inggrid.

Jahe merah memang salah satu herba asli Indonesia yang sudah dimanfaatkan sejak lama. Tanaman rimpang berwarna merah gelap ini sudah jadi pengobatan tradisional oleh berbagai masyarakat adat, seperti suku Jawa, Tolitoli, Banjar, Madura, Batak, Dayak, Bugis, dan Sunda untuk kekebalan dan vitalitas tubuh. Siapa sangka kini penelitian modern ternyata membenarkan pengetahuan lokal ini.

Dengan kandungan gingerol, shogaol, dan zingerone yang tinggi, jahe merah bersifat anti-inflamasi, antioksidan, antiemetik (mengurangi rasa mual), antibakteri, dan antidiabetes. Tidak heran jika jahe merah sering dimanfaatkan untuk meredakan mual karena masuk angin dan meningkatkan daya tahan tubuh. Selain itu, sebuah penelitian “Phytotherapy Research” menunjukkan bahwa jahe merah memiliki potensi dalam mengurangi gejala arthritis karena sifat anti-inflamasinya. Pun sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal “Journal of Ethnopharmacology” menemukan bahwa ekstrak jahe merah memiliki efek antidiabetes dan dapat membantu mengontrol kadar gula darah.

Tantangan Industri Herbal Jahe Merah Lokal dan Global

Satu jenis herba saja sudah terbukti memiliki segudang manfaat, apalagi herba lainnya. Pasar obat herbal Indonesia pun berkembang, mulai dari usaha kecil hingga industri skala besar. Standarisasi obat herbal di Indonesia diawasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) untuk memproduksi obat herbal yang sesuai dengan standar nasional. Berbagai pengujian dilakukan untuk memastikan kualitas, keamanan, dan manfaat bagi konsumen.

Di acara yang sama, dr. Inggrid menjelaskan tiga aspek yang harus dipenuhi, yaitu autentisitas, bahwa produk asli benar – misalnya memang pakai jenis jahe merah dan bukan jenis lain; kemurnian, yang berarti tidak terkontaminasi logam berat, mikroba, dan sebagainya; serta mutu, untuk menentukan taraf kualitas kandungan zat aktif dalam bahan.

“Ekosistem obat herbal dari hulu sampai hilir diperlukan agar produk bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dari sisi keamanan, kualitas, dan khasiat,” tutur dr. Inggrid Tania.

Ekosistem obat herbal yang terintegrasi dimulai dari kebun dengan perbenihan, budidaya bersama petani binaan, berlanjut ke proses pascapanen, ekstraksi, destilasi, hingga riset dan produk sampai ke tangan konsumen. Dengan adanya ekosistem obat herbal yang berjalan dari hulu hingga ke hilir, sumber bahan-bahan alami yang digunakan bisa dipastikan kualitasnya sehingga mendukung traceability dan mendukung keberlanjutan (sustainability) bisnis yang selaras dengan alam.

Hal inilah yang menjadi tantangan dalam industri obat herbal dalam negeri. “Mayoritas industri obat herbal di Indonesia belum memiliki ekosistem. Kita jadi tidak bisa trace sumber bahan baku dari mana, ditanam di mana, dan apakah ada potensi pencemaran. Permasalahan ini yang perlu kita perbaiki bersama dengan pelaku usaha, pemerintah, dan organisasi untuk memastikan standarisasi untuk daya saing global.” jelas dr. Inggrid.

Ekosistem Herbal Terintegrasi Jadi Contoh 

Pembentukan standarisasi global ini menjadi fokus utama WHO-IRCH dengan membentuk farmakope dari berbagai negara, termasuk Indonesia, menjadi farmakope internasional acuan dunia dalam memproduksi produk herbal. Dengan adanya standarisasi dan jaringan internasional yang kuat melalui Traditional Medicine Strategy, negara-negara bisa mengenalkan produk herbalnya secara global.

Agenda penyusunan ini sudah dilakukan sejak 2024 dan di tahun 2025 ini, Indonesia menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan WHO–International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines (IRCH) ke-16. Indonesia dapat memamerkan kemajuan riset dan industri yang telah memiliki ekosistem herbal terintegrasi berstandar tinggi, terutama jahe merah sebagai ikon Indonesia yang dengan giat dikembangkan oleh PT Bintang Toedjoe.

Dr. Inggrid pun menunjukkan signifikansi kunjungan ini. “Kedatangan WHO-IRCH ke Indonesia diisi oleh workshop dan kunjungan ke industri-industri terpilih yang sudah memanfaatkan jahe merah  yang jadi herba asli Indonesia sebagai benchmark dan percontohan untuk masukan dalam pembuatan farmakope herbal internasional.”

Kunjungan WHO-IRCH ke PT Bintang Toedjoe ini adalah bentuk apresiasi dalam komitmen industri mengembangkan obat herbal modern. Melalui produk herbal andalannya seperti Bejo Jahe Merah dan Komix Herbal, PT Bintang Toedjoe berkomitmen untuk memproduksi produk yang sesuai dengan standar nasional maupun internasional. Seluruh fasilitas produksi telah tersertifikasi CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) oleh BPOM, serta ISO 9001, ISO 14001, dan ISO 45001.

Ket Foto: Presdir Bintang Toedjoe Fanny Kurniati menjelaskan komitmen Bintang Toedjoe memproduksi produk yang sesuai dengan standar nasional maupun internasional.

Ketika dijumpai oleh rekan media dalam sela-sela kunjungan ini, Fanny Kurniati, Presiden Direktur PT Bintang Toedjoe berkomentar, “Kami sangat bangga Indonesia memiliki jahe merah sebagai warisan budaya yang banyak manfaat dan khasiat. Jahe merah yang kami gunakan untuk Bejo Jahe Merah sudah teruji paling aman untuk tingkatkan kekebalan tubuh. Ditambah, khasiat anti-inflamasinya juga kami manfaatkan di Komix Herbal. Dimulai dari kebun-kebun binaan kami sampai pabrik dan lab riset berteknologi tinggi, semangat From Nature to Science selalu melandasi tiap proses produksi hingga ke tangan konsumen.”

Kunjungan monumental yang merupakan penutup dari rangkaian acara pertemuan tahunan WHOIRCH ini diharapkan memperkuat peran Indonesia sebagai salah satu pusat riset dan produksi obat herbal berstandar internasional.

Keanekaragaman hayati yang melimpah, pengetahuan lokal yang mendarah daging, dan kemajuan sains di Indonesia menandakan Indonesia sudah siap untuk jadi pusat pengembangan obat herbal dunia. “Kunjungan oleh WHO-IRCH ini menjadi kehormatan besar dan mendorong kami untuk terus membawa pengetahuan lokal yang didasari sains bisa mencapai masyarakat global, dimulai dengan jahe merah,” tutup Fanny Kurniati.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments